LUMINASIA.ID, MAKASSAR — Nobar perdana film Baby Udon digelar di Nipah XXI Makassar, Sabtu (29/8/2026), menghadirkan produser sekaligus pemeran utama Denny Sumargo dan Fanny Kondoh, pemilik kisah nyata yang menjadi inspirasi film tersebut.
Pemutaran film yang berlangsung mulai pukul 14.15 hingga 16.10 Wita itu menjadi kesempatan bagi penonton Makassar menyaksikan lebih awal film yang mengangkat kisah cinta Fanny dan Hajime Kondoh, sebelum resmi tayang di bioskop pada 3 September 2026.
Baby Udon berhasil membawa penonton masuk ke dalam emosi perjalanan Fanny dan Hajime, mulai dari kebahagiaan, perjuangan membangun rumah tangga hingga kesedihan ketika keduanya harus menghadapi ujian berat.
Denny Sumargo dinilai berhasil menghidupkan kisah tersebut dalam balutan drama yang tidak hanya menguras emosi, tetapi juga menghadirkan sejumlah adegan lucu khas Denny Sumargo.
Penonton di Studio 2 Nipah XXI pun terlihat tertawa dalam sejumlah adegan, namun pada bagian lain suasana berubah haru hingga membuat sejumlah penonton menangis.
Usai pemutaran film, Denny Sumargo dan Fanny Kondoh masuk ke Studio 2 untuk menyapa penonton.
Suasana haru masih terasa ketika keduanya hadir di hadapan penonton yang sebagian masih terlihat sedih dan meneteskan air mata setelah menyaksikan perjalanan kisah Fanny dan Hajime.
Sejumlah penonton perempuan bahkan terlihat memeluk Fanny Kondoh. Salah satu penonton juga menceritakan ia telah kehilangan suaminya.
Pelukan tersebut menjadi bentuk empati penonton yang ikut merasakan kesedihan dan kehilangan dalam kisah yang diangkat ke layar lebar tersebut.
Dalam sesi bincang bersama media dan penonton, Denny Sumargo mengungkapkan proses panjang yang dilaluinya untuk memerankan karakter Hajime Kondoh.
Banyak pihak, kata Denny, sempat meragukan dirinya mampu memainkan karakter tersebut karena sosok Hajime sangat berbeda dengan dirinya.
"Banyak yang meragukan saya memerankan karakter Hajime. Sebenarnya dari awal memang bukan saya yang akan memainkan peran ini. Saya sempat menawarkan karakter Hajime kepada beberapa aktor Indonesia, tetapi karena masalah waktu dan availability akhirnya tidak bisa. Jadi akhirnya saya yang terjun langsung," kata Denny.
Menurut Denny, proses mendalami karakter Hajime membutuhkan waktu cukup lama.
Pasalnya, karakter tersebut merupakan sosok yang sangat bertolak belakang dengan dirinya.
"Perlu waktu yang cukup lama karena Hajime adalah sosok yang sangat bertolak belakang dengan saya. Beliau sangat soft spoken, sabar, lembut. Kemudian dia orang Jepang, jadi mau tidak mau unsur itu harus ada di dalam karakter Hajime yang saya mainkan," ujarnya.
Bukan Sekadar Kisah Cinta
Denny mengatakan alasan utama dirinya membawa kisah Fanny dan Hajime ke layar lebar bukan semata-mata karena kisah cinta keduanya.
Ia melihat perjalanan Fanny dan Hajime sebagai sebuah cerita tentang manusia, doa, perjuangan dan cara seseorang menghadapi ujian kehidupan.
"Saya melihat ini bukan hanya sekadar cerita Hajime dan Fany, tetapi cerita yang ditulis oleh Tuhan lewat mereka berdua. Film seperti ini, atau cerita seperti ini, mungkin seribu satu atau sejuta satu yang akhirnya bisa menjadi sebuah film," tutur Denny.
Menurutnya, kisah tersebut memiliki banyak sisi yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Ia mengatakan setiap orang pada dasarnya mencari kebahagiaan, jawaban dari Tuhan, serta berharap mendapatkan pasangan sesuai dengan impiannya.
Namun, tidak semua orang siap ketika harus menghadapi ujian dalam kehidupan.
"Saya berharap film ini diangkat karena saya melihat banyak sekali hal yang relate dengan kehidupan kita. Semua orang pasti mencari kebahagiaan, mencari jawaban dari Tuhan, ingin punya suami yang begini, pasangan yang begitu. Tetapi tidak semua orang siap menjalani sebuah ujian," katanya.
Denny menilai perjalanan Fanny dan Hajime menjadi gambaran mengenai cinta yang diuji hingga batas terakhir.
"Hajime dan Fany menjalani ujian sampai maut yang memisahkan. Menurut saya, itulah cinta sejati. Ada harapan di dalamnya, ada perjuangan, ada cinta, yang sebenarnya kita sendiri hadapi setiap hari," ujarnya.
Ia berharap Baby Udon tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga membuka pemikiran dan perasaan penonton mengenai kehidupan dan keyakinan kepada Tuhan.
"Saya berharap film ini bisa membuka pemikiran kita dan membuka rasa kita bahwa Tuhan akan menjawab doa-doa kita. Semua kesulitan yang kita alami akan berlalu. Hanya saja kita tidak pernah tahu kapan waktunya," kata Denny.
"Karena itu kita perlu berserah diri, seperti Fany dan Hajime yang akhirnya berserah diri dalam semua ujian luar biasa yang mereka alami," lanjutnya.
Denny Sumargo Ajak Keluarga Makassar Nonton
Kedekatan Denny Sumargo dengan Makassar juga menjadi bagian dari sesi bincang tersebut.
Ketika ditanya mengenai pesan untuk keluarga di Makassar, Denny sempat bercanda mengenai latar belakang Hajime yang merupakan pria Jepang.
"Orang Jepang ya?" kata Denny sambil tertawa.
Ia kemudian menyampaikan ajakan khusus kepada masyarakat Makassar untuk menyaksikan Baby Udon saat tayang di bioskop.
"Jadi saya harap Makassar, semua daeng-daengku dan keluarga besarku di Makassar bisa datang menonton tanggal 3 September. Saya membuat film ini juga untuk keluarga saya di Makassar," ujar Denny.
Menurutnya, film tersebut dibuat bukan hanya untuk keluarga, tetapi untuk semua orang yang membutuhkan pengingat mengenai harapan dan kebesaran Tuhan.
"Saya membuat film ini untuk kita semua supaya mengingatkan bahwa kuasa Tuhan itu sangat besar. Harapan kita pasti akan Tuhan jawab. Semoga dengan menonton film ini kita mendapatkan banyak hidayah dan pelajaran," katanya.
"Jadi jangan lupa nonton tanggal 3 September ya, buat daeng-daengku dan keluarga di Makassar," sambung Denny.
Fanny Terlibat Sejak Awal
Fanny Kondoh mengatakan dirinya dilibatkan dalam proses pembuatan Baby Udon sejak tahap awal.
Ia mengaku tidak hanya menjadi sumber cerita, tetapi juga ikut melihat proses produksi hingga film tersebut selesai.
"Dari awal pembuatan film, sudah melibatkan saya. Dari segi script, saya hanya menceritakan kisah saya, kemudian mereka yang menyempurnakannya," kata Fanny.
Saat proses syuting berlangsung, Fanny juga dipanggil dan diberikan kesempatan untuk melihat langsung proses produksi.
"Saat syuting pun saya dipanggil dan ikut melihat prosesnya. Jadi saya benar-benar dilibatkan dalam semuanya," ujarnya.
Fanny mengaku bersyukur kisah hidupnya dapat diangkat menjadi sebuah film dan dirinya tetap dilibatkan dalam proses tersebut.
"Saya merasa sangat beruntung karena cerita saya diangkat menjadi film dan saya juga ikut dilibatkan. Biasanya orang yang kisah hidupnya diangkat ke film belum tentu mendapat kesempatan seperti itu," katanya.
"I feel honored and happy banget," sambung Fanny.
Ia berharap Baby Udon dapat menjadi medium yang menyampaikan rasa sekaligus memberikan kekuatan kepada orang-orang yang sedang menghadapi ujian dalam kehidupannya.
"Saya berharap film ini bisa menjadi medium yang menyampaikan rasa dan menjadi penguat bagi siapa pun yang sedang menghadapi ujian dalam hidupnya," ujar Fanny.
Ia juga berharap penonton dapat membawa pulang pesan dan harapan setelah menyaksikan film tersebut.
"Saya juga berharap ada pesan dan harapan yang bisa kalian bawa pulang setelah menonton film ini. Jadi jangan lupa nonton tanggal 3 September ya," tuturnya.
Sinopsis Baby Udon
Terinspirasi dari kisah nyata yang mengharukan jutaan orang, Baby Udon bercerita tentang Fanny Kondoh (Caitlin Halderman), seorang perempuan muda asal Indonesia, yang jatuh cinta dengan Hajime Kondoh (Denny Sumargo), seorang pria asal Jepang yang datang ke Indonesia untuk urusan pekerjaan.
Setelah menikah, Fanny dan Hajime mulai menjalani kehidupan rumah tangga dengan segala suka dukanya.
Di tengah perjuangan mereka untuk mewujudkan impian memiliki buah hati, berbagai cobaan datang silih berganti dan menguji kekuatan cinta mereka, terutama ketika Hajime divonis kanker.
Produser
Andi Suryanto, Marcella Daryanani, Denny Sumargo, Olivia Alan Sumargo
Sutradara
Fajar Bustomi
Penulis
Oka Aurora
Production
LYTO Pictures, Sumargo Films
Baby Udon dijadwalkan tayang di bioskop mulai 3 September 2026.



