LUMINASIA.ID, MAKASSAR – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat mencatat penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan di Sulawesi Selatan terus menunjukkan pertumbuhan positif hingga April 2026, meski perekonomian global masih dibayangi ketidakpastian akibat perkembangan geopolitik, inflasi, dan volatilitas pasar keuangan.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Muchlasin, mengungkapkan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan di Sulawesi Selatan tetap mencatat pertumbuhan positif hingga April 2026 di tengah dinamika perekonomian global dan domestik.
Hal tersebut disampaikan Muchlasin dalam rilis kinerja sektor jasa keuangan yang diterima, Sabtu (28/6/2026), dengan menyebut pertumbuhan DPK mencerminkan kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan di Sulawesi Selatan yang masih terjaga.
"Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 7,23 persen (yoy) menjadi Rp149,46 triliun. Pertumbuhan penghimpunan dana masyarakat yang tetap kuat menunjukkan terjaganya kepercayaan masyarakat terhadap sektor perbankan di tengah dinamika ekonomi yang berkembang," ujar Muchlasin.
Menurutnya, pertumbuhan dana masyarakat tersebut menjadi salah satu indikator yang menunjukkan stabilitas sektor jasa keuangan di Sulawesi Selatan tetap terpelihara.
Muchlasin menjelaskan, komposisi DPK di Sulawesi Selatan masih didominasi oleh tabungan dengan pangsa mencapai 60,72 persen dari total dana masyarakat yang tersimpan di perbankan.
Sementara itu, deposito memberikan kontribusi sebesar 22,79 persen, sedangkan giro memiliki pangsa 16,50 persen.
Selain penghimpunan dana yang meningkat, sektor perbankan di Sulawesi Selatan juga mencatat pertumbuhan aset dan penyaluran kredit yang tetap positif.
"Pada posisi April 2026, total aset perbankan tumbuh sebesar 5,29 persen (yoy) menjadi Rp215,79 triliun, sedangkan kredit perbankan tumbuh sebesar 5,46 persen (yoy) menjadi Rp174,60 triliun," kata Muchlasin.
Ia menjelaskan, berdasarkan penggunaannya, kredit produktif memiliki pangsa sebesar 52,36 persen dari total penyaluran kredit dengan pertumbuhan 2,64 persen secara tahunan.
Di sisi lain, kredit konsumtif memiliki porsi 47,64 persen dan tumbuh lebih tinggi, yakni sebesar 8,74 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Muchlasin menambahkan, sektor perdagangan besar dan eceran masih menjadi penerima kredit produktif terbesar dengan pangsa mencapai 21,86 persen dari total kredit produktif yang disalurkan perbankan.
Menurutnya, fungsi intermediasi perbankan juga tetap berjalan dengan baik yang tercermin dari Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 116,82 persen.
Sementara itu, rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) berada pada level 3,74 persen yang menunjukkan kualitas kredit masih berada pada kondisi yang terjaga.
"Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perbankan di Sulawesi Selatan tetap mampu menyalurkan pembiayaan untuk mendukung aktivitas ekonomi dengan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dan pengelolaan risiko yang memadai," ujar Muchlasin.
Ia menegaskan, berbagai indikator tersebut menunjukkan sektor perbankan di Sulawesi Selatan tetap memiliki daya tahan yang baik dalam menjalankan fungsi penghimpunan dana masyarakat sekaligus menyalurkan pembiayaan guna mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.

